Rabu, 02 Agustus 2000

Penyatuan Jiwa

Penyatuan Jiwa

Kucoba menggapaimu dengan
Rindu yang selalu kupancurkan
Ke dalam telagamu
Setiap kali cinta kau tanyakan

Berdua kita menyusuri tepian
Dan permukaan dengan penuh
perasaan. Sampai aku atau kamu
Tak sanggup lagi berjalan
Dan ingin segera berenang

Oh
Kurengkuh kamu ke dalam pelukan
Dan dari mulutku akan terus
Kudesiskan:
Aku cinta kamu

2 Agustus 2000

Kamis, 11 November 1999

Resimen Mahasiswa

Resimen Mahasiswa

Jujur saja kami bingung dan bertanya-tanya

Mengapa yang satu ini kami harus

Mengapa kami seperti sandera

dicocok hidung seperti kerbau

Lalu satu di antara kami akan berkata

"Ini hanya lagu lama. Biarlah tak ikut tak apa.

Yang penting berani bicara"

Dan Engkau tetap saja berkeras

Harus ada!

Lalu beberapa di antara kami mencari

mahasiswa untuk menjadi anggota

Ya …, dengan tak memberitahu seperti apa

warna baju menwa itu. Mereka cuma

bilang bahwa sepatunya tentara.

Tapi apa tugasnya tak dijujuri

Katanya boleh berhenti setelah lasarmil usai

Benarkah begitu?

Kini satu dinasehati—jangan intimidasi

Jangan mecah opini.

Dia tertegun: Ooo ….

Belum apa-apa sudah provokasi

Lalu satu diam saja. Biarlah

Semua berjalan seperti mau beberapa.

Tangerang, November 1999

Selasa, 23 Februari 1999

Film India

Film India

aku ingin bercinta seperti cerita

film India



23 Februari 1999

Atau Kau Malah Tak Pernah Tahu

Atau Kau Malah Tak Pernah Tahu

Dapatkah kau terangkan kepadaku
Tentang sehelai daun yang kemarin sore terjatuh
ke kali. Hari ini dia sampai di mana

Sudahkah ia tiba di kotamu
Bercerita tentang rindu yang telah kujerat
Dengan jaring laba-laba beracun
Hingga tubuhku kurus merana

Atau mungkin ia telah sampai muara
Menjumpai alam yang sangat berbeda
Sehingga lupa ia dari mana
Lupa dusun itu seperti apa

Atau kau bahkan tak pernah tahu
Ada daun yang sering hanyut di kali
Seperti sampah-sampah kotamu

23 Februari 1999

Senin, 22 Februari 1999

Tawakkaltu Alallaah

Tawakkaltu Alallaah

Ya Allah,
kupenuhi bumiMu dengan pencarian
yang telah kubayar dengan segala laku
kupenuhi langitMu dengan pengharapan
yang telah kutanggungkan setelah segala upaya


Lah kujual semua malu yang kupunya
untuk menyumbang lisan sebuah keberanian
mewakili semua yang terkubur
Kupalang semua pintu dari kemungkinan
datangnya pembawa air yang dapat mematikan api
atau pembawa api lain membakar
rumah yang kubangun dengan kesabaran


Berilah hak pada karunia yang telah Engkau rahmati
walaupun ikhlasku telah mengosongkan
semua keinginan dan cita-cita
agar tak terbebani dosa
jika harus menanggungnya

22 Februari 1999

Jumat, 12 Februari 1999

Kemana Ruh Qishash Lari

Kemana Ruh Qishash Lari

Getir semakin menusuk dada. Para kafir itu
Telah meneteskan darah kita dan bau anyir
Mereka nikmati demi kosongnya tanah mereka
Dari para pendatang. Pencari rizki yang bertebaran
Di muka bumi seperti perintah dalam kalam ilahi
Padahal bukan anyir yang dihembuskan kepada kita
Melainkan keharuman syahid dan jalan pintas
Menuju tempat kembali yang tinggi


Apakah kita terus akan menahan diri
Walaupun lantarla itu mencekik kita
Dengan berita-berita dusta tentang sara
Yang dilakukan oleh mujahid-mujahid kita
Dan menriakkan kriminal murni
Bila mereka yang menusuk lambung kita
Dan membacok tengkuk kita dari belakang
Bahkan pada saat kita kembali fitri


Kemana ruh qishosh yang agung itu lari
Apakah jiwa keadilan itu telah disembunyikan
Para pewaris nabi: menjadi pelacur-pelacur
Untuk menghibur ketakutan mereka kepada penguasa
Yang memiliki negara dan tentaranya?
Apakah kita lupa bahwa kita harus menyiapkan
Kuda-kuda perang kita. Dan menambatkan di depan
Rumah untuk menakut-nakuti lantardla
Yang jelas-jelas tak akan ridla
Sampai kita mengikuti jalan mereka?

12 Februari 1999

Kamis, 11 Februari 1999

Hidup Sehidup Hidup

Hidup Sehidup Hidup

Aku merasa hidup setelah terlalu lama mati
Dalam keputusasaan. Mencari batin
Setenang muka danau-danau beku:
Ada cinta dalam sujudku di atas hamparan bumi
Ada harapan dalam namaMu dalam kuasaMu

Kini tak perlu kukejar mimpi yang membuat
Tidurku tak lagi istirah. Yang membuat bangunku
Tanpa ikhtiar. Kugantung kehendakku padaMu
Kusebutkan dalam pinta
Kuceritakan dalam adu
kuserahkan semua padaMu

Hidup aku sehidup hidup
Dengan sujud dan sebut
Karena kematian bukan lagi maut
Tetapi hidup yang hidup sesudah hidup

11 Februari 1999