Kemana Ruh Qishash Lari
Getir semakin menusuk dada. Para kafir itu
Telah meneteskan darah kita dan bau anyir
Mereka nikmati demi kosongnya tanah mereka
Dari para pendatang. Pencari rizki yang bertebaran
Di muka bumi seperti perintah dalam kalam ilahi
Padahal bukan anyir yang dihembuskan kepada kita
Melainkan keharuman syahid dan jalan pintas
Menuju tempat kembali yang tinggi
Apakah kita terus akan menahan diri
Walaupun lantarla itu mencekik kita
Dengan berita-berita dusta tentang sara
Yang dilakukan oleh mujahid-mujahid kita
Dan menriakkan kriminal murni
Bila mereka yang menusuk lambung kita
Dan membacok tengkuk kita dari belakang
Bahkan pada saat kita kembali fitri
Kemana ruh qishosh yang agung itu lari
Apakah jiwa keadilan itu telah disembunyikan
Para pewaris nabi: menjadi pelacur-pelacur
Untuk menghibur ketakutan mereka kepada penguasa
Yang memiliki negara dan tentaranya?
Apakah kita lupa bahwa kita harus menyiapkan
Kuda-kuda perang kita. Dan menambatkan di depan
Rumah untuk menakut-nakuti lantardla
Yang jelas-jelas tak akan ridla
Sampai kita mengikuti jalan mereka?
12 Februari 1999
0 komentar:
Poskan Komentar